Mencegah Bullying di Sekolah: Strategi Humanis Kemendikdasmen

November 15, 2025 by No Comments

0 0
Read Time:3 Minute, 24 Second

Siapa sih yang tidak khawatir dengan isu perundungan atau bullying di sekolah? Tentunya, kita semua ingin anak-anak kita belajar di lingkungan yang aman, nyaman, dan bisa berkembang tanpa rasa takut. Nah, kabar baiknya, Kemendikdasmen (Kementerian Pendidikan Dasar dan Menengah) serius banget nih menyikapi hal ini.

Mereka sedang menyempurnakan regulasi yang sudah ada untuk benar-benar mencegah bullying di sekolah. Pendekatannya? Humanis dan partisipatif, melibatkan semua pihak penting: murid, guru, dan pastinya orang tua!

Mengapa Penting Mencegah Bullying di Sekolah?

Bullying itu bukan sekadar kenakalan biasa, lho. Dampaknya bisa sangat serius bagi psikis anak, mulai dari gangguan belajar, rendah diri, hingga trauma berkepanjangan. Belum lagi, di era digital ini, ada ancaman cyberbullying yang semakin memperparah keadaan. Jadi, sudah jelas kan, upaya mencegah bullying di sekolah itu krusial banget untuk masa depan anak-anak kita.

Menteri Pendidikan Dasar dan Menengah, Abdul Mu’ti, menegaskan, “Anak-anak kita berhak belajar tanpa rasa takut.” Kalimat ini menjadi semangat utama dalam setiap langkah yang diambil Kemendikdasmen.

Strategi Kemendikdasmen: Regulasi Humanis dan Partisipatif

Kemendikdasmen menyadari bahwa masalah perundungan butuh solusi yang berkelanjutan dan nggak bisa cuma dari satu sisi. Sebelumnya, di tahun 2023, sudah ada peraturan menteri tentang pencegahan kekerasan di sekolah. Nah, regulasi ini akan disempurnakan lagi dengan fokus pada pendekatan yang lebih humanis dan partisipatif.

Melibatkan Semua Pihak: Murid, Guru, dan Keluarga

Penyempurnaan regulasi ini bukan cuma di atas kertas, tapi melibatkan langsung mereka yang terdampak dan berperan penting. Ini rinciannya:

  • Murid: Mereka akan diajak langsung merancang program pencegahan. Dengan begitu, murid punya rasa memiliki terhadap terciptanya lingkungan sekolah yang aman dan nyaman.
  • Keluarga: Kemendikdasmen terus mendorong penguatan komunikasi antara murid dengan keluarga. Karena dukungan dari rumah itu penting banget!
  • Guru: Setiap guru akan menjadi wali siswa, bertanggung jawab dalam bimbingan akademik dan konseling emosional. Pelatihan Bimbingan dan Konseling (BK) tidak hanya terbatas pada guru BK, tapi juga menyasar guru kelas dan mata pelajaran lainnya. Keren, kan?

Fokus pada Kesehatan Psikososial Murid

Upaya ini adalah bagian dari strategi besar untuk membangun sistem pendidikan yang tidak hanya menekankan aspek akademis, tapi juga kesehatan psikososial murid. Abdul Mu’ti mengutip pepatah Afrika, “Dibutuhkan seluruh desa untuk membesarkan seorang anak (It Takes a Village to Raise a Child).” Ini jadi ajakan bagi semua pihak—guru, orang tua, siswa, hingga masyarakat—untuk aktif menciptakan lingkungan belajar yang aman, nyaman, dan menggembirakan bagi semua murid.

Respons Cepat Kemendikdasmen Terhadap Kasus Perundungan

Penting untuk diingat, Kemendikdasmen juga sigap dalam menanggapi kasus perundungan yang terjadi. Kita mungkin masih ingat kasus di SMAN 72 Jakarta yang sempat menjadi sorotan. Nah, Kemendikdasmen langsung bergerak cepat dengan respons darurat.

Tim Psikososial dan Koordinasi Efektif

Apa saja sih langkah konkretnya?

  • Tim Psikososial: Segera dibentuk tim untuk memberikan konseling psikologis dan aktivitas pembinaan kepercayaan diri bagi murid-murid yang terdampak.
  • Koordinasi Cepat: Sekolah juga didorong untuk berkoordinasi lebih cepat dalam menangani kasus, memastikan tidak ada korban yang terabaikan.

Pada tanggal 12 November 2015 (catatan: tanggal ini mungkin typo di artikel asli, tapi kita pertahankan konteksnya), perwakilan Kemendikdasmen, Pemprov DKI Jakarta, Himpunan Psikologi Indonesia (HIMPSI), dan pihak sekolah langsung berkoordinasi lanjutan. Mereka melakukan asesmen cepat (rapid assessment) meliputi observasi, wawancara guru, orang tua, serta data tambahan dari 569 murid dan 31 GTK SMAN 72 Jakarta.

Asesmen ini mengukur 4 klaster penting:

  1. Keluhan fisik (misalnya, gangguan tidur, lelah, nafsu makan).
  2. Keluhan emosional & kognitif (sedih, cemas, takut, sulit konsentrasi).
  3. Masalah interaksi sosial & dukungan (menghindar, tidak percaya, merasa tidak dipahami).
  4. Harapan, makna hidup, daya pulih (kehilangan harapan, tidak menemukan makna).

Data hasil asesmen ini pastinya akan jadi masukan berharga untuk peraturan menteri ke depan dan langkah-langkah penanganan yang lebih tepat.

Harapan Kita Bersama: Sekolah Aman, Anak Cerdas Bebas Takut

Dengan segala upaya ini, Kemendikdasmen menunjukkan komitmen kuatnya untuk mencegah bullying di sekolah. Ini bukan hanya tugas pemerintah, tapi tanggung jawab kita semua. Mari kita dukung penuh langkah-langkah ini agar anak-anak kita bisa tumbuh menjadi generasi yang hebat, cerdas, dan yang terpenting, bebas dari rasa takut.

Karena pada akhirnya, “Kita butuh anak-anak kita menjadi generasi yang hebat,” seperti yang diungkapkan Abdul Mu’ti. Dan fondasi utamanya adalah lingkungan yang aman dan mendukung.

Happy
Happy
0 %
Sad
Sad
0 %
Excited
Excited
0 %
Sleepy
Sleepy
0 %
Angry
Angry
0 %
Surprise
Surprise
0 %